Saturday, October 31, 2009

Pada Akhirnya... "Dia" Tetap Sebuah Alat Transportasi

Semahal apapun harganya, sebagus apapun desainnya, secanggih apapun teknologi lipatannya, buat gw sebuah sepeda lipat tetaplah sebuah sepeda!, tak lebih!.

Artinya, ya alat transportasi!, yang bisa digunakan untuk kemana saja sekuat dengkul dan betis mengayuh, dan membawa apa saja sesuka kita, asal barang sendiri bukan barang orang lain ya... hahaha....

Contohnya, sore ini dengan seli kesayangan, gw bawa "muatan" lumayan besar dan agak berat, plus dua kantong kresek berisi makanan. Tidak lebih berat dari “gembolan” yang sering gw bawa ketika b2w setiap harinya, tapi...karena "jenis" bawaannya itu yang membuat gw sempet diliatin orang-orang, hehehe...

Jadi, ayo pakai sepeda loe sekarang juga, kayuh kemana loe suka, jadikan dia sesuai "fitrahnya" sebagai alat transportasi.

Jangan cuma disimpan, dielus-elus dan diliatin doang. Kalo begitu doang, mana ada orang yang tertarik ikut gerakan kita, menggunakan sepeda sebagai alat transportasi?

Gw ga bermaksud nyela, nyindir atau ngegurui, ini cuma pengalaman pribadi doang kok :D

Sunter - Malam Takbiran

Taqabbalallahu minna wa minkum,

Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin Selamat Idul Fitri 1430 H ya..

Thursday, February 19, 2009

PARTAI KARBOL, Bersamanya, Wangi & Bersih Di Mana-Mana

Gw baru aja diriin sebuah partai politik. Namanya “Karbol”. Singkatan?, bukan dong!, karena gw gak suka singkatan, bikin ribet dan bikin pusing!, lagian udah banyak juga kaleee singkatan-singkatan yang bertebaran di Indonesia ini.

Nama lengkap partai gw adalah “Partai Karbol”. Tapi, kalo pun rakyat Indonesia mau nama partai gw disingkat, maka tolong dong singkatin nama partai gw jadi “PAKAR”. Singkat, padat dan… kedengarannya juga intelek kan?, hahaha….


Dan jangan diartiin macem-macem ya!. Karbol ya karbol aja, seperti yang udah loe kenal selama ini yaitu “pembersih lantai berwarna putih dan berbusa seperti air sabun serta berbau harum yg dapat dipakai untuk mematikan kuman penyakit”.


Nah, karena namanya Karbol, maka paltform partai gw ini—seperti yang gw tulis di kantor kelurahan, waktu ngisi formulir pendaftaran—adalah “Menebar Keharuman atau Wangi di mana-mana sekaligus (syukur-syukur kalo bisa sih) Membasmi Kuman yang Menyusahkan Bangsa”.


Untuk lima tahun ke depan—oh ya, Partai Karbol gw diriin bukan untuk maju bertarung di ajang Pemilu 2009 ini ya, tapi untuk Pemilu 2014 nanti. Lagian kalo sekarang ikut juga udah telat kalee… dan pasti gak dianggep ama KPU—tujuan yang ingin gw raih bersama Partai Karbol cuma satu kok, yaitu “menebar keharuman di mana-mana”. Gak muluk-muluk amat dan dan gak pake bahasa yang ruwet-njelimet juga kan?.


Para kader Partai Karbol akan diterjunkan ke tempat-tempat yang berbau busuk (dalam arti seseungguhnya—yang tersurat—maupun yag tersirat) seperti di pelabuhan, teminal bis, stasiun KA dan Tempat Pembuangan Sampah Akhir Bantar Gebang dan lain-lain; pokoknya semua tempat yang mengeluarkan bau-bau busuk. Dengan berbekal ember hitam, alat pel dan cairan karbol tentu saja, mereka akan membersihkan tempat-tempat tersebut dan menyulapnya menjadi tempat yang bersih, wangi dan bebas kuman!.


Sementara untuk tempat-tempat yang berbau busuk secara tersirat, para kader Partai Karbol siap lahir dan batin diterjunkan untuk mengharumkan kembali institusi atau departemen-departemen yang selama ini dicurigai sering mengeluarkan aroma tak sedap sekaligus membasmi kuman-kuman yang membebani masyarakat. Tahu kan maksud gw?. Caranya?, maaf saudaraku, kami tidak akan membeberkannya sekarang, karena itulah sebenarnya program andalan kami di ajang Pemilu 2014 nanti, hahaha…


Untuk sementara ini gw belum sempet bikin logo tapi kalo slogan sih udah ada, yaitu “PARTAI KARBOL, Bersamanya, Wangi & Bersih Di Mana-Mana”. Cakep kan???.


Nah yang soal logo itu kalo loe-loe orang pengen dapat pahala dari Alloh SWT mungkin bisa dengan cara ngebuatin logo partai gw ini. Gw akan sangat berterima kasih sekali dan mendoakan agar si pembuat logo nanti mampu juga membuat partai politik sendiri, hahaha… gak deng!, gw doain loe mau bergabung ama partai gw deh, asyik gak?


Baiklah sob, sekian saja dulu info terkini dari gw. Mohon doa restu dari loe-loe semua agar gw diberi ketabahan, kekuatan dan kesabaran dalam menempuh “jalan yang gak bener ini”. Amin.



“Hidup PARTAI KARBOL!!!, Bersamanya, Wangi & Bersih Di Mana-Mana”

Workshop "Menemukan Ide-Ide Hebat"

Dimana Anda merasa sering mendapatkan ide?
A. Mobil B. Café C. Toilet/Kloset D. Kantor


Tepat!, jawaban terbanyak adalah di C. Toilet/Kloset!.

Dari 100 responden yang ditanyai, 87 orang menjawab toilet/kloset sebagai tempat dimana mereka sering mendapatkan ide-ide. Entah ide-ide yang segar nan brilian-cemerlang gilang-gemilang atau ide-ide licik dan busuk, pokoknya dapat ide!. Sisanya (berturut-turut) di café, mobil dan tempat terakhir adalah di kantor.

Mengapa toilet, mengapa di atas kloset?.

Karena, menurut responden, hanya di toilet-lah mereka bisa beb
as dan terbebas dari dua hal. Sambil nongkrong di kloset, mereka bebas merenung atau melamun sehingga terbuka kesempatan untuk menggali atau mendapatkan ide-ide. Kedua, terbebas dari “beban” yang menggelayuti tubuh mereka sepanjang hari, yaitu membuang hajat. Dimana lagi coba tempat yang paling pas—kalo bukan di toilet sambil nongkrong di kloset—agar bisa terlepas dari dua hal tersebut?, gak ada lagi khan???.

Di taman?, masa bisa?, selain tempatnya yang terbuka dan berisik, pikiran dan penglihatan kita pun kita pun pasti akan terganggu melihat dan mendengar
pasangan-pasangan kekasih yang cekikikan melepas “hajat” mereka sendiri.

Sisa jawaban yang lain dari hasil survey di atas gak perlulah dibahas. Males. Gak penting juga kali, tokh semua udah jelas.
Yang justru memicu otak gw adalah bahwa dari hasil survey di atas, tiba-tiba saja… eureka!, gw dapat ide!. Gw pengen bikin workshop bertema “Bagaimana Mendapatkan Ide-Ide yang Hebat”. Ide ini juga gw dapat saat gw sedang nongkrong di toilet!, hahaha…

Konsep workshop ini sebenarnya sangat simple yaitu “menghimpun orang-orang yang ingin menemukan atau mendapatkan ide-ide hebat dengan cara yang tepat yaitu sambil duduk/nongkrong di atas kloset!”.


Jenius gak sih???, belum pernah ada kan???.


Bisa dibayangkan bagaimana suasana yang akan tercipta nantinya.

Dua ratusan orang atau lebih yang hadir akan duduk di atas kloset masing-masing lalu mulai merenung dan melamun untuk mencoba menemukan ide-ide yang hebat.


Dan pada saat yang bersamaan… teriakan-teriakan “EURAKA…!”, EURAKA…!”, “EUREKA…!” akan bergema bersahut-sahutan di setiap sudut ruangan tempat workshop berlangsung saat satu per satu setiap peserta menemukan ide hebat mereka.


Dahsyat!, sungguh sangat dahsyat!


Don… loe emang jenius!


Buat temen-temen yang pengen tahu detail lebih lanjut dari workshop ini bisa kirim email japri ke gw.

Tuesday, February 17, 2009

Membership Card

Jika Anda sering berkunjung ke suatu tempat—katakanlah mal, toko buku, toko sepeda, toko distro, restoran, café, pub, pusat kebugaran dan masih banyak lagi—pasti pada kunjungan berikutnya, entah ketiga atau kesepuluh kalinya, Anda akan ditawari untuk menjadi anggota dari tempat-tempat tersebut. Dan, jika bersedia menjadi anggotanya, maka Anda akan diberi kartu yang berfungsi ganda; sebagai kartu identitas keanggotaan juga kartu diskon. Enak bukan?.

Dengan kartu
keanggotaan semacam ini, hidup Anda akan terasa lebih mudah, nyaman dan aman, karena Anda—sebagai anggota—selalu mendapat prioritas atau keistimewaan dibanding pengunjung lain yang bukan anggota.

Ketika restoran yang Anda kunjungi penuh, maka hanya dengan memperlihatkan kartu keanggotaan yang Anda miliki di resto tersebut, hup…!, dalam hitungan menit, Anda sudah bisa duduk dan memulai memesan makanan. Sementara pengunjung lain yang sudah lama antre cuma bisa menahan amarah sambil memegang kursi yang siap dilemparkan ke arah Anda!.


Di pusat kebugaran, Anda akan mendapat sebotol air mineral, selembar handuk yang senantiasa bersih
dan wangi juga keistimewaan untuk mandi sauna sampai kulit Anda melepuh!. Sementara yang bukan anggota, silahkan membawa air dan handuk sendiri dan mandi sauna di rumah!.

Di bioskop, Anda—karena anggota—sah-sah saja datang terlambat 5-10 menit setelah pemutaran telop iklan bioskop yang isinya tentang larangan menaikkan kaki ke kursi itu. Sambil membawa popcorn dan minuman (yang kadang-kadang tidak tertutup rapat) Anda bisa masuk ke kursi Anda yang kebetulan berada di tengah itu.


Pokoknya, punya kartu anggota semacam itu sungguh sangat luar biasa enaknya!.


Tapi herannya, penawaran keanggotaan ini tidak akan pernah ditawarkan di dua tempat ini : Mesjid dan Peturasan (Toliet/WC) Umum.

Di mesjid, sesering apapun dan berkali-kali Anda pergi ke mesjid yang sama untuk shalat (frekuensi kunjungan Anda akan semakin tinggi ketika bulan Ramadhan datang), Anda tidak akan pernah ditawari kartu kean
ggotaan mesjid tersebut. Mengapa?, entahlah!. Mungkin karena ibadah adalah masalah privasi jadi tidak perlu kartu keanggotaan yang bisa saja dijadikan kartu absen oleh pengurus mesjid untuk mengukur frekuensi kunjungan Anda ke mesjid tersebut. Atau barangkali Tuhan—sebagai pemilik mesjid—tidak perduli benar, apakah Anda ingin menjadi anggotanya atau tidak.

Pun
hal yang sama tidak akan Anda temukan di peturasan umum!.
Jangankah
di peturasan umum dengan desain dan kualitas kebersihan terbaik di dunia, di peturasan umum yang ada di terminal bis, bandara atau stasiun KA yang kelasnya bermacam-macam itu pun, pasti Anda belum pernah sekalipun ditawari untuk menjadi anggotanya, benar bukan?. Mengapa?, entahlah!.
Barangkali, (lagi-lagi) karena buang hajat adalah (juga) masalah pribadi, sehingga penjaga peturasan tidak merasa perlu menawari keanggotaan untuk pengunjung yang sudah menikmati fasilitas mereka.


Sebenarnya ini cara berpikir yang salah!. Harusnya mereka—pemilik peturasan umum itu—menawari Anda atau siapapun sebagai member. Dengan janji, Anda bisa mendapat prioritas dan keistimewaan bisa langsung masuk ke dalam bilik peturasan tanpa menunggu giliran dan tanpa antrean!. Ini berguna, apalagi jika sewaktu-waktu, tiba-tiba saja (semoga tidak terjadi), Anda terserang diare akut, sehingga harus dengan segera dan seketika menyelesaikan urusan Anda itu. Ha…ha…ha…


(Dharwangsa XI, 17 Febrauri 2009)

Gak Berisik, Gak Pake Getar!


Kemarin malam, setelah menanti beberapa lama, akhirnya gw dapat juga kesempatan buat nyicipin naik bajaj berbahan bakar gas (Bajaj BBG). Asyiiikkk...

Kok asyik?, apa hebatnya bajaj BBG?. Ya, gak hebat-hebat amat sih, cuma emang gw lagi kepengen aja naik tu bajaj, secara bajaj ini telah mengadopsi teknologi baru, memakai bahan bakar ga
s.

Pas membuka pintu, engselnya begitu lancar dan daun pintunya sendiri pun terasa ringan, jadi ketika ditutup, pintunya berbunyi "klik", halus sekali, begitu ringan!.


Pertama kali naik, gw merasakan kelembutan dan keempukan jok kulit imitasinya. Busa joknya tidak terlalu tebal, tapi juga tidak terlalu tipis, pas untuk menopang bokong penumpangnya. Hmmm... pantat gw jadi nyaman sekali, apalagi setelah seharian jalan dan beraktivitas. Kelembutan jok ini mungkin juga disebabkan karena suspensi bajaj ini juga masih baru, jadi mampu meredam setiap goncangan akibat melibas lubang atau polisi tidur.


Interior BBG ini juga sepertinya dibuat dengan perencanaan yang matang, semua tertata rapih pada tempatnya. Memang masih ada sekat yang membatasi penumpang dan pengemudi, tapi yang ini dibuat dengan lebih beradab yaitu tidak lagi menggunakan papan tapi sudah lembaran besi yang ditutupi semacam pelapis kulit.

Tapi..., yang paling menakjubkan adalah suaranya…
Suaranya saudara-saudara, sungguh tidak berisik, walau tidak juga bisa dibilang senyap, tapi udah lumayan jernih! (apa karena gw naiknya malam ya?). Dan satu lagi, minim getaran, sehingga ketika turun dari bajaj itu, kita tidak akan merasa menyaingi Dewi Persik apalagi Anisa Bahar!.


Gara-gara suara mesin yang nyaris tidak terdengar inilah, gw berhasil ngobrol santai sama supir bajajnya. Dari obrolan singkat itu gw baru tahu kalo ternyata bajaj BBG ini adalah salah satu program pemerintah untuk mengurangi polusi udara dan ketergantungan akan BBM. Bahwa tidak ada seorangpun yang boleh memiliki bajaj BBG kecuali supir bajaj (ini bagus, jadi tidak ada tauke atau bandar bajaj yang kadang menjerat para supir dengan aturan setoran yang melilit leher, mencekik nafas) dengan cara tukar tambah. Bajaj lama ditukar bajaj BBG. Kalo harga bajaj lama terlalu murah, maka si supir bajaj tetep kudu mencicil bajaj BBG-nya dengan cara mengangsur sejuta setiap sebulannya.


“Berat gak tuh bang?”

“Apanya?, bajajnya?, ya kagaklah Om, …bajaj ini enteng banget dibawanya!”

“Bukan!, cicilannya!”

“Oooo… ya mayan dah, tapi ketutup kok, abis orang-orang juga udah mulai suka naik bajaj BBG. Lagian saingan masih dikit Om”

“Oooo…”


Gak lama, sampailah gw di rumah dengan selamat dan tubuh tetap utuh tanpa dihinggapi efek getar!.


Pesan moral cerita ini : kalo loe mau berbincang-bincang dengan supir bajaj, mau observasi atau mo ngadain penelitian, mo ngadain survey atau malah mau merayu supir bajaj, pilihlah supir bajaj yang sudah memiliki bajaj BBG.


(Dharwangsa XI, 17 Febrauri 2009)

Monday, February 16, 2009

ROAD-ID, Si Gelang Kuningku Tak Lagi Sendiri!

Ini cuplikan beberapa komentar orang soal my Road ID, si Gelang Kuning gue:

Miss Mangdu
, kuat-berstamina berkeliling menyisiri Mangga Dua biar gak pernah beli apa-apa!:

"Gelang loe cakep, Kang!. Di Mangdu banyak tuh gw liat yang jual ginian!"


(Arkkhh...(geram) Sok tau loe! (dalam hati)... di Mangdu lantai berapa loe liat yang kayak gini???!!!!)


Mbakyu Pinky, single mother anak satu. Penggemar nomor satu segala sesuatu berwarna merah jambu, tapi paling anti kalo di-madu (ini juga alasan dia cerai ama suaminya):

"Yang pink ada gak mas?, biar gw makin pinky getu lohhh...,
hi...hi...hi..."

(Loh, ini bukan buat elo!. Kapan gw bilang mo kasih ke elo sih???)


Mbakyu Bos
, baru negur gw kalo mo ada pitching-an doang!. Ceritanya sih berlagak mo nyemangatin getu:

"Duuuu...mentang-mentang menang pitching Partai G, gelangnya juga
kuning"

(Cuih!, basa-basi banget sih?!. Padahal dia kan tau, sebelum pitching
dan waktu presentasi pitching tuh partai, gw udah pake ni gelang!)

Miss L, kaya banget tapi baik hati banget dan tidak sombong:

"Bapak Edon, aku punya gelangnya Lance Amstrong dong. Warnanya
kuning juga. Dikirimin temanku dari Amrik"

(Huuuaaaahhh... mauuuu!!!!. Lance Amstrong getu loh!. Doi kan living
legend-nya Tour de France!)

Mas Lambai, produser PH. Konon gay, tapi yang gw liat sih dia jablay!.
Di tangannya ada 2 gelang karet merah EURO CUP 2008 bertuliskan Turki & Swiss)

"Wah, jangan mas, ini kenang-kenangan Euro 2008!"


(Idih!, sapa juga yang mauuu???. Lagian team favorit gue Inggris, bukan
Turki apalagi Swiss!)

Bu Muda
, baru masuk abis cuti melahirkan. Anaknya lagi-lagi cowok!.
Yang barusan lahir, yang nomor 4, dikasih nama Adul.

"Ihhh...lucu mas gelangnya!. Kayak gelang bayi baru lahir. Eh mas, mau
gak gelangnya si Adul???"

(Hah???, lu kira gw bayi???. Udah bangkots neh...!!!. Makasi bu... tumben baek!)

Bang Saptam
, satpam salon, betawi asli:


"Napa kuning sih?, item napah!. Pan cakep tuh ama gelang bahar
engkong gw!. Nehhh..."

(Mo kuning kek, mo mere kek, urusan gue!. Nape loe nyang sibuk?. Lagian engkong gue ninggalin tane, bukan gelang bahar doang!. Gak kayak engkong loe!)


Mas Jay
, ngakunya Gay. Tapi, emah sih, abis lemah-gemulai!


"Sekiranya ada yang sedikit goldies, ke-emas-an gitu, akyu saya mau
loh mas… Mesen dongg...

(Gelang emas kaleee...!!!.. Kalo itu sih loe bikin aja sendiri di Cikini!)


Mbak Whit
(aslinya Witi. Sukanya dipanggil Whit, soalnya ngarep
kulitnya bisa putihan dikit)

"Kontras banget loh sama kulit kamu yang hitam..."


(Lah?, loe kira loe putih?. Loe kan sama itemnya sama gw!. Sok putih
loe!. Dasar item!!!)


Tapi, sekarang si Kuning gak lagi sendiri. Ceritanya gini:


Mr. P, peranakan Tionghoa-Surabaya, kuliah & kerja di Jakarta, kini
bermukim di Bogor bersama 2 puteranya dan isterinya yang manis.

"Buat elo broer, tanda persahabatan. Gw punya 2. Ni gelang cuma buat
para manajer doang"

(Hiks...so sweet...!, Thanks Mr. P untuk gelang karet "WORLD HUNGER RELIEF WEEK" hijau pupusnya)


*** belakangan gw baru tahu kalo dia bohong soal ini. Gelang seperti itu bisa dibeli semua orang dengan harga lima rebu perak doang!... dasar kampret!!!***


Gara-gara ini, si Kuning gak lagi sendiri.
Si Gak hijau pupus kini telah menemani.
Gak papa deh, kan biar ramai. Lagian udah lama si Kuning mendominasi
dan memonopoli lengan gue. Kalo ada warna lain, kan jadi makin berwarna, jadi beda, ya gak???

(Dharmawangsa, 03 November 2009)

LiveStrong, Long Live Miss L!

Sebenernya gw gak minta, cuma cerita
Gelang karet kuning “LiveStrong”-nya Lance Amstrong!


Warnanya kuning mencorong

Kontras banget ama kulit gw yang item gosong! :D

Makasi buat Miss L yang emang dasarnya baik hati dan tidak sombong


Sekarang, nih gelang udah ngelingker di tangan

Nemenin si kuning ROAD-ID yang udah nonkrong duluan


Cakep kan???

(Gelangnye, bukan gw!)


Miss L emang baik hati,

Dia bilang pengen ngasih udah lama hari,

Cuman karena dia sibuk pitching sana-sini

Baru minggu lalu die nyempetin diri


Miss L… makasiiiiii….


[Dia pasti bilang, “no problemo, oki-doki pak edon]


(Dharmawangsa, 03 November 2008)